Sastra Itu Tidak Lahir dari Kekosongan Budaya

Kuliah umum bertajuk Sastra dan Pelestari Tanda-Tanda Zaman mengahdirkan Dr. Ibnu Wahyudi, M.A dari Universitas Indonesia dan di moderatori oleh Prof. Dr. Ali Imron Al Maruf, M.Hum. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, penikmat sastra dan mahasiswa. Acara ini bertujuan untuk membahas peran sastra dalam merekam perubahan sosial, budaya, serta dinamika politik yang terjadi dalam sejarah manusia.

Dalam sambutannya, Kaprodi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dr. Miftakhul Huda, M.Hum., seorang dosen dalam sambutannya menegaskan bahwa satra tidak lahir dari kekosongan budaya, sastra selalu lahir dari konteks budaya yang melingkupinya. “Sastra itu tidak lahir dari kekosongan budaya, melainkan tumbuh dari pergulatan sosial, ekonomi, dan politik yang ada di dalam masyarakat. Setiap karya sastra adalah rekaman peradaban yang menggambarkan nilai, pemikiran, serta realitas sosial pada masanya,” ungkap Dr. Huda dalam sesi pemaparannya.

Ia juga menambahkan bahwa banyak karya sastra yang mampu menggambarkan kondisi suatu bangsa melalui bahasa yang estetis. “Kita bisa melihat bagaimana Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, hingga Eka Kurniawan menggambarkan pergolakan sejarah, ketidakadilan, dan pencarian identitas dalam karya-karya mereka,” ujarnya.

Dengan adanya kuliah umum ini, diharapkan para mahasiswa dan peserta lainnya semakin menyadari bahwa sastra memiliki peran yang sangat penting dalam memahami dan merekam sejarah peradaban. Sastra bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai saksi zaman yang terus berkembang sesuai dengan perubahan sosial dan budaya. Oleh karena itu, apresiasi dan pelestarian sastra harus terus digalakkan agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

 

 

 

 

Scroll to Top