
Penelitian berjudul “Pemanfaatan Linguistik dalam Kajian Terjemahan Al-Qur’an” dipresentasikan dalam Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada 9–10 Juni 2026. Kegiatan ilmiah yang menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi bahasa dari berbagai negara tersebut menjadi ajang pertukaran gagasan mengenai perkembangan mutakhir penelitian bahasa, sastra, dan pembelajaran.
Penelitian yang ditulis oleh Prof. Dr. Markhamah, M.Hum. dan Dr. Atiqa Sabardila tersebut mengkaji pemanfaatan pendekatan linguistik dalam penelitian terjemahan Al-Qur’an yang berkembang di Indonesia. Kajian ini menunjukkan bahwa pendekatan linguistik, khususnya semantik, menjadi perspektif yang paling banyak digunakan dalam memahami makna dan pesan yang terkandung dalam teks terjemahan Al-Qur’an.
Bagi kalangan akademik, nama Prof. Markhamah atau yang akrab disapa Prof. Mar bukanlah sosok baru dalam bidang kajian terjemahan. Guru Besar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini telah merintis penelitian mengenai teks terjemahan sejak sekitar dua dekade yang lalu. Konsistensinya dalam mengembangkan kajian terjemahan menjadikan bidang tersebut sebagai salah satu ciri khas kepakarannya.
Dalam paparannya, Prof. Mar menjelaskan bahwa penelitian tentang terjemahan tidak lagi hanya berfokus pada kesepadanan bahasa, tetapi juga telah berkembang ke berbagai aspek linguistik, seperti semantik, morfologi, pragmatik, analisis wacana, hingga kajian ideologi yang terkandung dalam teks terjemahan. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teks terjemahan merupakan sumber data yang kaya untuk mengungkap berbagai fenomena kebahasaan dan sosial.
Penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi ini menemukan bahwa objek kajian terjemahan Al-Qur’an yang diteliti para akademisi cukup beragam, mulai dari Al-Qur’an secara keseluruhan, surah tertentu, hingga kata atau istilah tertentu yang memiliki makna penting dalam konteks keislaman. Dari sisi pendekatan, penelitian semantik mendominasi kajian-kajian tersebut, baik semantik umum, semantik leksikal dan kontekstual, maupun semantik yang dikembangkan oleh Toshihiko Izutsu.
Topik-topik baru mengenai teks terjemahan yang terus dikembangkan oleh Prof. Mar menjadi bagian dari karakter penelitian yang melekat pada dirinya. Sebagai guru besar perempuan pertama di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Mar dikenal produktif menghasilkan karya ilmiah yang menghubungkan kajian linguistik dengan berbagai fenomena sosial, budaya, pendidikan, dan keagamaan.
Partisipasi dalam konferensi internasional ADOBSI ini sekaligus menegaskan komitmen Prof. Mar dan tim peneliti UMS dalam memperkuat kontribusi ilmu linguistik Indonesia pada forum akademik global. Melalui penelitian-penelitian yang inovatif dan berkelanjutan, diharapkan kajian terjemahan Al-Qur’an dapat terus berkembang serta memberikan kontribusi bagi penguatan literasi keislaman, kebahasaan, dan keilmuan di Indonesia maupun di tingkat internasional (AS, 11/6/2026)
