Dalam semangat penguatan literasi global, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktor (PBIPD) Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) sukses menyelenggarakan International Conference on Language, Literature, and Teaching (ICoLLiT) 2025. Seminar internasional yang diselenggarakan secara hybrid dengan mengangkat tema revitalisasi budaya literasi. Hal ini menjadi panggung akademik yang menggugah pemikiran lintas negara dan lintas disiplin yang prestisius.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Ihwan Susila, Ph.D., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya literasi sebagai pilar kemajuan peradaban. Ia menyampaikan bahwa UMS berkomitmen untuk menjadi pusat keilmuan yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga berkontribusi nyata dalam membentuk budaya literasi yang transformatif yang berdampak.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh General Chief ICoLLiT 2025, Yunus Sulistyono, M.A., Ph.D., yang memaparkan latar belakang diselenggarakannya konferensi ini sebagai bagian dari upaya kolektif mendorong kembali kesadaran budaya literasi di tengah tantangan era digital, globalisasi dan VUCA. Ia juga mengapresiasi semangat sinergi antara PBIPD, PBSI, dan MPBI yang menjadi fondasi utama keberhasilan kegiatan ini.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama (keynote speakers) dengan perspektif internasional dan nasional yang memperkaya diskursus tentang revitalisasi budaya literasi.
Pembicara pertama, Dr. Ganjar Harimansyah, M.Hum., selaku Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, menyoroti kebijakan strategis pemerintah dalam penguatan ekosistem literasi nasional. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan dan lembaga pemerintah dalam mendorong literasi sebagai gerakan sosial yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Marian Klamer dari Leiden University, Belanda, memberikan wawasan mengenai upaya dokumentasi dan pelestarian bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah. Ia menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam revitalisasi bahasa dan budaya sebagai bagian dari literasi kebangsaan dan warisan global.

Sementara itu, narasumber ketiga, Dr. Misita Anwar dari Swinburne University of Technology, Australia, mengulas praktik literasi kritis dalam pendidikan multikultural. Ia menggarisbawahi bahwa literasi saat ini tidak hanya soal membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan berpikir kritis, empati budaya, serta keterampilan komunikasi lintas budaya yang inklusif.

Kegiatan ini tidak hanya mempertemukan pemikir dan praktisi pendidikan bahasa dari berbagai negara, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan diskusi produktif bagi para akademisi, mahasiswa, dan penggiat literasi. Melalui konferensi ini, PBIPD UMS menunjukkan komitmennya dalam memelopori gerakan literasi yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal dan terbuka terhadap dinamika global.
Dengan mengusung tema yang relevan dan menghadirkan narasumber kompeten dari dalam maupun luar negeri, ICoLLiT 2025 menjadi momentum strategis untuk memperkuat jembatan akademik lintas bangsa dalam mendorong kembali budaya literasi sebagai kekuatan perubahan sosial dan kemanusiaan.
